Dua Bulan Pasca Banjir Bandang, Empat Desa di Sumatera Utara Masih Terisolasi


Sudah dua bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Sumatera bagian utara, namun dampaknya masih sangat dirasakan. Empat desa yang berpenduduk sekitar 1.000 keluarga tetap terisolasi akibat infrastruktur yang rusak parah.

Jalan dan jembatan menuju desa-desa di pegunungan Tapanuli Tengah masih terputus total, sementara di Tapanuli Selatan, sebagian warga masih tinggal di tenda pengungsian. Kawasan Tapanuli—yang meliputi Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga—menjadi wilayah yang paling parah terdampak bencana yang terjadi akhir November 2025.

Masyarakat setempat masih berjuang untuk pulih dari keterpurukan ekonomi. Sawah dan ladang yang rusak berat belum diperbaiki, sehingga sumber penghidupan utama warga terhambat.

“Sudah dua bulan jalan dan jembatan-jembatan menuju desa kami putus total. Hampir semua warga sudah meninggalkan desa dan memilih menyewa rumah di desa tetangga yang tidak terisolasi,” ujar Martahan Sitompul, warga Desa Sait Nihuta Kalangan II, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Kamis (29/1/2026).

Dampak Sosial dan Ekonomi

Kerusakan infrastruktur dan isolasi desa menyebabkan masyarakat kesulitan mengakses kebutuhan pokok, pendidikan, dan layanan kesehatan. Selain itu, banyak warga kehilangan mata pencaharian akibat sawah dan ladang yang rusak, sehingga proses pemulihan ekonomi menjadi sangat lambat.

Penulis: Tim Jurnalistik Medias News Room
Sumber: CNN Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miss World Cameroon Launches “Voices for Justice” Initiative to Tackle Gender-Based Violence

Project Lestari Laut Brings Education Closer to Orang Asli Children in Coastal Malaysia

Baru Resmi Cerai, Andre Taulany Mengaku Diminta Anak untuk Segera Menikah Lagi