10 Mata Uang Terlemah di Dunia (Per 1 USD – 2026)

Tren pelemahan sejumlah mata uang global kembali menjadi sorotan pada awal tahun 2026. Berdasarkan data Morningstar yang dirilis melalui akun informasi ekonomi fyifact, terdapat 10 mata uang dengan nilai terendah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Di posisi pertama sebagai mata uang paling lemah adalah Rial Iran (IRR) dengan nilai sekitar 1.100.000 rial per 1 USD. Nilai tukar ini mencerminkan tekanan ekonomi Iran yang berkelanjutan, dipicu sanksi internasional, inflasi tinggi, dan krisis domestik.
Peringkat kedua ditempati Pound Lebanon (LBP) dengan kurs 89.000 per USD. Negara tersebut terus berjuang menghadapi krisis perbankan dan politik berkepanjangan sejak 2019.

Di Asia Tenggara, Dong Vietnam (VND) dan Kip Laos (LAK) juga masuk daftar, masing-masing berada di kisaran 26.000 dan 21.000 per USD. Kemudian terdapat Leone Sierra Leone (SLE) di angka 22.000.
Sementara itu, Rupiah Indonesia (IDR) berada di urutan keenam dengan nilai tukar sekitar 16.000 rupiah per 1 USD. Meski rupiah kerap mengalami penguatan dan pelemahan harian, angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan mata uang bernilai rendah secara nominal dibandingkan dolar AS.

Negara lain yang turut mengisi daftar adalah Uzbekistan (UZS) dengan 12.000 per USD, Franc Guinea (GNF) di 8.000, Guarani Paraguay (PYG) 6.000, serta Shilling Uganda (UGX) yang mencapai 3.000 per USD.

Daftar ini bukan semata menandakan buruknya ekonomi negara bersangkutan, melainkan juga mencerminkan kebijakan moneter masing-masing negara, tingkat inflasi, struktur ekonomi, hingga sejarah redenominasi.

Ekonom menilai bahwa mata uang dengan nominal rendah belum tentu berarti ekonomi yang lemah. Beberapa negara, seperti Indonesia dan Vietnam, tetap menunjukkan pertumbuhan ekonomi positif meskipun nilai kurs terhadap dolar tidak sekuat mata uang global lainnya.

Namun, pelemahan berkepanjangan dapat berdampak pada biaya impor, daya beli masyarakat, hingga stabilitas fiskal. Karena itu, pemerintah di berbagai negara terus melakukan intervensi dan reformasi agar nilai tukar tetap terjaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miss World Cameroon Launches “Voices for Justice” Initiative to Tackle Gender-Based Violence

Project Lestari Laut Brings Education Closer to Orang Asli Children in Coastal Malaysia

Baru Resmi Cerai, Andre Taulany Mengaku Diminta Anak untuk Segera Menikah Lagi