Bupati Aceh Utara Keluhkan Daerahnya Tak Dikunjungi Presiden Saat Peninjauan Banjir Bandang di Sumatera
Bupati Aceh Utara Keluhkan Daerahnya Tak Dikunjungi Presiden Saat Peninjauan Banjir Bandang di Sumatera
Bupati Aceh Utara, Ismail Jalil, menyampaikan keluhan terbuka terkait wilayahnya yang disebut tidak pernah dikunjungi Presiden Prabowo Subianto saat melakukan peninjauan dampak banjir bandang di sejumlah daerah di Sumatera. Ia mempertanyakan apakah Aceh Utara benar-benar diketahui sebagai salah satu wilayah yang terdampak bencana besar tersebut.
Keluhan itu disampaikan Ismail Jalil dalam rapat Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana yang digelar di Aceh. Dalam forum tersebut, Ismail menggambarkan kondisi Aceh Utara yang menurutnya mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang yang disertai longsor di berbagai titik.
Ia menuturkan, sebagian besar kecamatan di Aceh Utara porak-poranda diterjang banjir bandang. Permukiman warga, fasilitas umum, hingga sarana ibadah mengalami kerusakan berat, bahkan banyak yang hanyut terbawa arus deras. Kondisi tersebut, kata Ismail, sangat memukul kehidupan masyarakat setempat.
“Di Aceh Utara kayaknya ke mana saya rasa, apa Pak Presiden nggak tahu ada banjir,” ujar Ismail dengan nada kecewa. Pernyataan itu mencerminkan kegelisahannya atas minimnya perhatian pusat terhadap daerah yang dipimpinnya.
Ismail menduga Aceh Utara luput dari perhatian pemerintah pusat karena kondisi darurat yang membuat jaringan internet dan listrik terputus di banyak wilayah. Akibatnya, informasi terkait bencana tidak tersampaikan secara luas dan tidak menjadi perhatian publik nasional.
Dalam rapat tersebut, Ismail bahkan tak kuasa menahan tangis saat menceritakan situasi di lapangan. Ia menyebut pemerintah daerah sangat kesulitan melakukan penanganan karena keterbatasan akses dan sarana. Ia pun secara terbuka memohon bantuan helikopter dari pemerintah pusat untuk menjangkau wilayah-wilayah terisolasi.
“Kami hanya bisa melihat rumah dan sarana ibadah hanyut, bahkan manusia dibawa arus,” ungkapnya dengan suara bergetar, menggambarkan betapa dahsyatnya dampak bencana yang melanda Aceh Utara.
Menurut Ismail, kerusakan akibat banjir dan longsor kali ini jauh lebih parah dibandingkan kejadian sebelumnya. Ia menilai kondisi darurat tersebut membutuhkan perhatian dan penanganan serius dari pemerintah pusat, terutama dalam fase pemulihan pascabencana.
“Karena tidak ada sinyal dan mati lampu, mungkin tidak viral. Itu alasan pusat tidak hadir,” pungkas Ismail, menegaskan harapannya agar Aceh Utara tidak lagi terabaikan dan segera mendapatkan bantuan maksimal dari pemerintah.
Komentar
Posting Komentar