Penari Joged Bumbung di Bali Jadi Korban Pelecehan: Dicium Penonton dan Disawer Lewat Mulut, Netizen Kecam Aksi Tak Senonoh


Seorang penari Joged Bumbung di Bali kembali menjadi korban pelecehan di tengah pertunjukannya. Kejadian tersebut terjadi saat penari wanita tersebut dicium secara tiba-tiba oleh salah satu penonton dari belakang. Insiden ini terekam dalam sebuah video yang kemudian menjadi viral di media sosial. Pada awalnya, penari itu terlihat gembira, namun setelah tindakan tidak pantas tersebut, ekspresinya berubah menjadi muram dan penuh amarah. Insiden ini terjadi pada upacara adat tigang sasih, yaitu peringatan tiga bulanan bayi.

Tak hanya itu, pelecehan lainnya datang dari penonton pria lain yang mencoba memberikan saweran sebesar Rp 100 ribu dengan cara yang tidak pantas. Sang pria menyodorkan uangnya melalui mulut, berharap sang penari menerimanya dengan mulut juga. Penari yang mengenakan kebaya merah tersebut awalnya berniat mengambil uang tersebut dengan tangan, namun penonton tersebut menarik kembali uangnya, memaksa si penari untuk memberikan isyarat penolakan dengan jarinya.

Aksi ini memicu kecaman dari masyarakat. Kepala Dinas Kebudayaan Bali, I Gede Arya Sugiartha, menyayangkan insiden tersebut, apalagi mengingat Joged Bumbung kerap kali mendapat stigma negatif dan dianggap sebagai tarian yang bersifat erotis. Arya mengungkapkan bahwa generalisasi terhadap seluruh penari joged bumbung ini telah lama menjadi masalah, dan upaya untuk meluruskan persepsi ini terus dilakukan meski tantangannya cukup besar.

Sejak 2006, pementasan Joged Bumbung di Bali telah berulang kali menjadi sorotan. Misalnya, pada Maret lalu sebuah video yang menunjukkan joged bumbung dengan unsur erotis juga menjadi viral. Tarian tersebut menampilkan gerakan yang vulgar, seperti sang penari yang menari di atas paha penonton pria. Pemerintah Provinsi Bali telah berulang kali memberikan edukasi dan arahan kepada para penari untuk tetap menari sesuai pakem tradisional. Surat edaran terkait penindakan terhadap joged erotis juga telah diterbitkan dua kali, namun masalah ini masih terus muncul.

Arya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti melakukan upaya normatif untuk mengatasi penyalahgunaan tari tradisional ini. Ia berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan budaya asli tanpa mencampurkannya dengan unsur yang merusak dapat terus ditingkatkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miss World Cameroon Launches “Voices for Justice” Initiative to Tackle Gender-Based Violence

Project Lestari Laut Brings Education Closer to Orang Asli Children in Coastal Malaysia

Baru Resmi Cerai, Andre Taulany Mengaku Diminta Anak untuk Segera Menikah Lagi