Netanyahu Tunda Sidang Kabinet, Tuduh Hamas Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata
Netanyahu Tunda Sidang Kabinet hingga Hamas Setuju Gencatan Senjata
Sehari setelah Presiden Joe Biden mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa kabinetnya tidak akan bersidang hingga Hamas menyetujui seluruh ketentuan perjanjian tersebut, Kamis (16/1).
Netanyahu menuduh Hamas melanggar beberapa poin dalam perjanjian demi mendapatkan konsesi tambahan. Ia menyebut adanya "krisis di menit terakhir" yang menghambat persetujuan Israel atas gencatan senjata yang telah lama dinanti. Namun, pihak Netanyahu tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai klaim ini.
Sementara itu, Sami Abu Zuhri, pemimpin senior Hamas, membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar. "Tidak ada dasar atas klaim Netanyahu bahwa Hamas melanggar perjanjian gencatan senjata," ujar Abu Zuhri kepada AFP.
Dalam perkembangan lain, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa serangan udara Israel sejak pengumuman gencatan senjata pada Rabu (15/1) telah menewaskan setidaknya 72 orang.
Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai mencakup pembebasan 33 sandera dalam enam minggu ke depan sebagai imbalan atas pembebasan ratusan warga Palestina yang ditahan oleh Israel. Sisanya, termasuk tentara Israel, akan dibebaskan dalam tahap kedua yang akan dirundingkan setelah tahap pertama berjalan.
Namun, Hamas menegaskan bahwa mereka tidak akan membebaskan sandera yang tersisa tanpa adanya gencatan senjata permanen dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.
Ketegangan meningkat sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan 252 orang disandera, menurut data Israel. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 46.700 warga Palestina tewas dan 110.200 terluka akibat serangan balasan Israel.
Israel terus menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sejak 1967, sambil membangun permukiman di wilayah tersebut. Konflik juga meluas ke Lebanon dan Iran, memperburuk situasi di kawasan.
Komentar
Posting Komentar