Indonesia Tolak Keras Rencana Trump untuk Relokasi Warga Gaza

Indonesia Tolak Rencana Pemindahan Warga Gaza oleh Trump

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menegaskan penolakannya terhadap rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin memindahkan warga Gaza secara massal ke negara-negara tetangga.

Sebelumnya, Trump mengumumkan rencana tersebut saat bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Gedung Putih pada Selasa (4/2). Ia menyebut Mesir dan Yordania sebagai tujuan utama relokasi, sembari mengklaim bahwa rencana itu merupakan opsi yang lebih baik bagi warga Gaza. Trump juga membuka kemungkinan bagi negara lain untuk menerima pengungsi dari Gaza.

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Agung Nurwijoyo, menilai usulan Trump bertentangan dengan prinsip solusi dua negara yang selama ini didukung oleh AS.

Sementara itu, Hamas dalam pernyataan resminya mengecam keras rencana tersebut.

"Kami menolak pernyataan Trump yang menyebut warga Gaza tidak memiliki pilihan selain pergi. Pernyataan itu hanya akan memperburuk ketegangan di kawasan," tegas Hamas.

Penolakan juga datang dari pemerintah Arab Saudi, yang menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak boleh dipindahkan dari tanah mereka. Saudi menegaskan bahwa mereka tidak akan menjalin hubungan dengan Israel tanpa adanya upaya pembentukan negara Palestina.

Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Raja Yordania Abdullah II turut menyatakan keberatan terhadap rencana Trump. Mereka, bersama negara-negara mitra AS di Timur Tengah, memperingatkan bahwa pemindahan warga Gaza akan mengancam stabilitas kawasan dan memperluas konflik.

Konflik antara Hamas dan Israel kembali memanas sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan 252 orang disandera, menurut data Israel. Sebagai balasan, serangan Israel ke Gaza telah menewaskan lebih dari 47.200 warga Palestina dan melukai lebih dari 111.400 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Israel telah menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sejak 1967 serta terus membangun permukiman di Tepi Barat hingga saat ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miss World Cameroon Launches “Voices for Justice” Initiative to Tackle Gender-Based Violence

Project Lestari Laut Brings Education Closer to Orang Asli Children in Coastal Malaysia

Baru Resmi Cerai, Andre Taulany Mengaku Diminta Anak untuk Segera Menikah Lagi